Trip to JEPANG! - Part 5 (SENDAI)

Akhirnya tiba juga di halaman saya akan bercerita tentang agenda pertukaran pelajar saya. Saya dan 4 orang teman saya adalah peserta pertukaran pelajaran dari Universitas Airlangga yang akan diadakan di Tohoku University, Sendai. Selain kami, juga akan ada peserta dari Thailand dan juga China.

Photo courtesy dridrive.wordpress.com

Perjalanan ke Sendai kami gunakan shinkansen sekali lagi, kali ini perjalanan kami mengarah ke utara Pulau Honshu. Sendai terletak di prefektur Miyagi, mungkin banyak yang belum pernah mendengar nama kota ini, namun percayalah kota ini juga tidak kalah bagus! Mungkin juga sebagian dari anda sudah pernah mendengar nama kota Sendai berkat kejadian musibah gempa bumi dan tsunami besar yang telah terjadi dan memakan ribuan korban jiwa di area ini pada tahun 2011 lalu, peristiwa ini dikenal dengan nama "The Great East Japan Earthquake and Tsunami". Prefektur Miyagi lah tempat yang paling terdampak apalagi yang ada di pesisir pantai, musibah ini juga mengakibatkan hancurnya dan kebocoran reaktor nuklir disana *seraaaaaam* (BACA DISINI).

TOKYO to SENDAI


Perjalanan ke Sendai, saya mencoba membeli nasi bento (nasi bekal) yang dijual di stasiun untuk dimakan di dalam shinkansen. Pikir saya tak ada salahnya mencoba mumpung di Jepang, meskipun memang harganya lumayan melebihi budget saya satu kali makan selama disana. Kalau tidak salah seingat saya harga satu bento yang saya beli sekitar 1000-1200 yen, lupa, dan harganya juga beda-beda tergantung isi dari bentonya sendiri, kebetulan yang saya pilih adalah salmon bento. Saya biasanya hanya menganggarkan sekitar 500-600 yen saja per sekali makan dan biasanya sudah mendapat semangkuk beef bowl ukuran medium di Yoshinoya *yang sudah sangat mengenyangkan*, atau membeli sushi dan onigiri di 7-eleven.

Salmon bento beli di stasiun, pasti ada yang jual ginian kok di stasiun besar pemberhentian shinkansen

Tiba di Sendai Station, atau orang-orang sana menyebutnya dengan sebutan "Sendai-eki", kami menunggu sekitar 45 menit dan kemudian dijemput oleh pihak Tohoku untuk menuju asrama kami di daerah Kawauchi. Sendai-eki ini sendiri adalah jantung dari kota Sendai itu sendiri, di seputaran sinilah shopping district, mall, gedung perkantoran, kafe dan juga restoran berada. Kami menyesal menunggu diam di station selama 45 menit dan tidak berjalan-jalan, kami baru tau pada saat keluar dari area parkiran bahwa bangunan stasiun itu menyatu dengan mall-mall.

Sendai termasuk kota yang tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan Tokyo ataupun Osaka. Di kota ini pun belum ada kereta subway ataupun JR yang mengelilingi seantero kota, transportasi umum utama di kota ini adalah menggunakan bis. Tenang saja, banyak sekali bus stop di kota ini dan sudah tertera jadwal keberangkatan di papannya. Kota ini juga dikenal dengan kota pelajar, lumayan banyak pelajar internasional disini, maklum saja karena Tohoku University termasuk Top 5 Universities in Japan. Tohoku University ini juga punya 3 area kampus yang terpisah-pisah di Sendai, hampir mirip Unair ya kalo untuk ini.

Tohoku Seiryo, yang ini gedung FKG yah, sebelah-sebelahnya masih luas ada pusat research juga hospital

Ruang praktikum disana, kampus Indonesia jelas beda kelas a.k.a kalah telak *oops*

Saya langsung bercerita tentang kegiatan saya selama 10 hari di Tohoku University saja ya secara garis besar. Intinya kegiatan berisikan kuliah, seminar, praktikum, tur kampus dan rumah sakit, party *jelas dong*, yang terakhir presentasi dan juga jalan-jalan (study tour). Biarkan foto-foto berbicara, namun yang paling ingin saya bagikan kepada anda adalah saat study tour, dan tentu beberapa tempat wisata yang saya kunjungi selama di kota Sendai ini saat sedang free dari program pertukaran pelajar *ada satu hari libur dan tiap malampun setelah selesai kuliah kami selalu berjalan-jalan*.

Sambutan dari pihak Tohoku saat kami pertama datang, bersama mahasiswa dari Thailand

Kuliah dari pagi sampai sore *ini yang foto sensei dari Tohoku terus kita minta filenya*

Foto bareng Professornya kelar kuliah, ada mahasiswa dari Thailand dan China

Pas hari terakhir sebelum hangover farewell party, dapet sertifikat dari pak dekan langsung!

MINAMISANRIKU, MIYAGI PREFECTURE


Kebetulan study tour kami menuju area yang paling besar terdampak gempa bumi dan tsunami di Prefektur Miyagi pada tahun 2011 lalu, yakni Minamisanriku (BACA: 2011 Tohoku Tsunami & Earthquake). Yap, ini benar-benar sungguh pengalaman langka selangka-langkanya kami bisa mengunjungi daerah ini 4 tahun setelah bencana itu terjadi. Saya yakin tidak semua orang dan wisatawan bisa ke daerah ini, karena daerah tersebut pada saat itu masih lumayan tertutup untuk publik dan memang mereka sedang melakukan perbaikan dan pembangunan besar-besaran untuk membangkitkan kehidupannya kembali.

Inilah pusat kota Minamisanriku tahun 2015, sudah rata dengan tanah (Photo courtesy schauwecker)

Hampir tidak saya jumpai adanya wisatawan asing di daerah itu selain wisatawan Jepang itu sendiri. Ditambah lagi terputusnya jalur kereta JR ke area ini menambah kesulitan wisatawan datang kesini. Saat ini satu-satunya cara datang ke area ini adalah menggunakan bis JR atau kendaraan pribadi (mobil/bis wisata). Untuk bis JR sendiri ini dia rutenya berjalan melalui (yang harusnya) track kereta JR, namun karena terdampak tsunami akhirnya difungsikan sebagai jalur bis JR.

Bis JR berjalan di bekas track kereta JR yang sudah rusak akibat tsunami (Photo courtesy schauwecker)

Perbaikan track kereta JR yang telah rusak dibuat menjadi jalan untuk bis JR (Photo courtesy schauwecker)

Selain itu, saat saya kesana oleh pihak guide kami diwanti-wanti untuk tidak berfoto sembarangan, apalagi menggunakan pose model peace dengan 2 jari membentuk seperti gunting, karena untuk menghormati kesedihan keluarga dan seluruh korban bencana tersebut. Bahkan kami diinformasikan untuk lebih baik tidak memposting segala foto tentang area ini di media sosial apapun (sebagian foto yang saya post disini yang memang foto asli saya tidak langsung menyangkut gambar area terdampak, sisanya jika menyangkut area terdampak maka itu hasil googling ya kawan, meskipun saya sendiri juga ada fotonya). Sungguh top secret bukan? Pengalaman yang sangat langka bagi saya (saat itu).

Minamisanriku sendiri sebenarnya adalah area wisata yang langsung berdekatan dengan laut, teluk lebih tepatnya, atau dikenal dengan nama Matsushima Bay. Terlihat bangunan-bangunan yang semestinya merupakan sebuah hotel dan resort namun sekarang telah menjadi sepi sekali. Saya yakin dulunya banyak wisatawan asing yang juga datang kesini. Banyak dari warga lokalnya sendiri yang memang pindah dari kota ini, namun masih ada juga beberapa yang memilih bertahan di rumah darurat sampai rumah mereka yang permanen selesai dibangun.

Matsushima Bay (Photo courtesy schauwecker)

Saya terharu dan sedih saat kami berkeliling ke spot-spot yang menjadi saksi musibah besar itu. Guide kami menceritakan setiap peristiwa yang terjadi di tiap tempat. Musibah itu sendiri terjadi sekitar jam 3 sore, dan pada saat itu suhu sedang dingin-dinginnya dan sedang turun salju. Bisa dibayangkan bukan kedinginan terkena air bah tsunami dan tidak ada pemanas, listrik terputus serta sedang turun salju!

Bangunan kantor radio ini akan dijadikan Memorial Building atas bencana tsunami (Photo courtesy japantimes)

Jam terjadinya bencana tsunami. Jam ini dibiarkan berhenti di bangunan sekolah yang terdampak tsunami

Daerah ini memang sedang dibangun. Seluruh area ini ditinggikan permukaan tanahnya hingga mencapai 10 meter sebagai pencegahan apabila kelak terjadi tsunami lagi. Bangunan-bangunan disana pun masih berupa gundukan tanah, belum ada bangunan yang jadi, yang ada mungkin hanyalah rumah-rumah darurat (portable house), klinik kesehatan darurat, disaster & crisis management center, dan juga area perbelanjaan/pertokoan yang berisi beberapa tempat makan dan menjual pernak-pernik (itupun juga bangunannya portable yah). Minimarket 7-eleven dan supermarket Maiya darurat juga ada dan hanya satu di seluruh area ini. Anyway, diingat lagi ya artikel saya ini menceritakan saat saya mengunjungi area ini di tahun 2015 lalu, entah sekarang kondisinya sudah seperti apa, saya yakin pasti sudah jauh berbeda. Sudah pasti jauh berkembang dari yang saya tulis disini, bahkan sangat mungkin sudah ada transportasi kereta yang dibuka atau bangunan-bangunan lain yang sudah kembali beroperasi, Jepang memang sangat cepat dalam membangun percaya atau tidak.

Gundukan tanah di Minamisanriku, semuanya dinaikkan 10 meter (Photo courtesy schauwecker)

Ditinggiin 10 meter tanahnya biar jaga-jaga kalo ada tsunami lagi (Photo courtesy schauwecker)

Sun Sun Shopping Village, area pertokoan dan tempat makan portable bagi wisatawan

Seperti ini bangunan portable pertokoan di area Sun Sun Shopping Village

Area makan di Sun Sun Shopping Village, pesan makan di tokonya nanti makanannya dibawa kesitu *foodcourt*

Makan siang kami di salah satu tempat makan di Minamisanriku Sun Sun Shopping Village, mie soba!

Es krim Matcha sebagai dessert, ini juga beli di Sun Sun Shopping Village!

Nah hebatnya lagi meskipun bangunan-bangunan ini bersifat darurat semua, bentuk serta fasilitasnya sudah sangat bagus sekali! Ketika mengunjungi klinik darurat, jangan dibayangkan berupa tenda kesehatan darurat ataupun semacamnya, yang ada ketika saya masuk sudah berupa bangunan cukup besar dengan fasilitas kesehatan yang sangat amat memadai, bahkan lebih baik daripada fasilitas Puskesmas di Indonesia *oops*. Saya pikir pembangunan mereka memang sangat cepat, mereka sangat cepat untuk bangkit dan tanggap dalam menanggulangi bencana ini.

Disaster & Crisis Management Center di Minamisanriku

Mendapatkan mini-class terjadinya Tsunami sampai perkembangan pembangunan saat ini terutama sektor medis

Berkunjung ke pusat medis darurat/sementara di Minamisanriku *lebih bagus daripada Puskesmas Indonesia*

Jika kalian memang sangat ingin mengunjungi tempat ini, tidak ada salahnya. Anda bisa sedikit menapak-tilas peristiwa bencana tersebut serta memberikan doa serta belasungkawa bagi seluruh korban disana. Jika kesana sepertinya memang harus datang bersama orang lokal Jepang, jangan murni wisatawan asing saja karena pasti tersesat arah *belum ada peta resmi yang baru, semua masih dibangun* ditambah lagi area ini masih agak tertutup untuk wisatawan luar. Berikut informasi untuk menuju ke Minamisanriku hasil googling: KLIK DISINI.

SENDAI ATTRACTIONS


Kembali ke kota Sendai. Di kota ini sebenarnya cukup banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi, sayangnya karena 10 hari saya disini memang dikhusukan untuk agenda pertukaran pelajar di Tohoku University, maka tentu tidak banyak yang bisa saya dan teman-teman kunjungi. Agenda kami setiap harinya dimulai dari jam 8 hingga jam 5 sore, otomatis kami baru bisa berpergian saat malam hari, itupun ada 2 malam dari 10 hari itu kita ada agenda welcome juga farewell party bersama pimpinan dan staff kampus. Padahal, tak jauh dari dorm tempat kami tinggal sendiri, ada Miyagi Museum of Art, yang selalu kami lewati saat ke 7-eleven terdekat dan saat ke bus station terdekat, yah apadaya memang tidak ada waktu karena museum ini hanya buka pagi hingga sore jam 3.

Miyagi Museum of Art. Tiap hari cuma lewat *sedih* (Photo courtesy http://www.miyagitheme.jp)

Selain free time yang hanya bisa kami gunakan setiap malam hari, untungnya (entah harus merasa beruntung atau tidak ya hahaha) kami diberikan one-day off juga pada saat hari Minggu, tidak ada agenda apapun dari kampus (sepertinya dari mereka juga ingin beristirahat, ingat orang Jepang jika sudah bekerja pasti tekanannya sangat besar!), akhirnya hari itu full kami khususkan jalan-jalan di kota Sendai, ditemani oleh staff dosen kami dari Indonesia yang juga bersekolah di Tohoku, terima kasih banyak Dr. Arofi dan Dr. Ratri, it was a great time!


Terima kasih sensei-sensei Airlangga, saya yang ngefoto makanya ga ada disini *pukpuk diri sendiri* 

Nah, untuk berpergian tiap malam, tentu tidak lain kami habiskan waktu di pusat kota Sendai, yang tentu adalah Eki! Yap, Eki atau daerah seputaran Sendai Station. Banyak sekali pusat perbelanjaan dan jalanan yang memang penuh berisi pertokoan, disinilah commercial area di kota Sendai. Kami pulang pergi dari sini selalu menggunakan bus, oh ya ingat disini bus tidak beroperasi 24 jam, jadi jika kalian tidak ingin ketinggalan bus dan pulang berjalan kaki, cek dulu jam terakhir keberangkatan bus di jadwal yang tertera. Kami sendiri biasanya sudah tiba di Eki dari sekitar jam 7 malam, lalu kami sudah berada di bus station sekitar jam 10 atau setengah 11 untuk pulang.

Sendai Eki, jalan-jalan saya berhari-hari "tawaf" keliling pertokoan *astaghfirullah*

Di Eki sendiri sudah jelas semua toko ada. Kami berkeliling sana-sini sampai gempor, sudah pasti pulangnya bawa belanjaan banyak *tabiat orang Indonesia* pas sampai dorm pun masih mampir lagi ke 7-eleven *nggak nyadar kondisi perekonomian pribadi*. Untuk pertokoannya lumayan lengkap, nama-nama toko yang sudah nggak asing di seluruh pelosok Jepang macam H&M, Uniqlo, Pokemon Center, Docmart, GU, BookOff, Daiso, Disney, Loft, ABC Mart, sampai toko-toko obat dan kosmetik yang juga jual jajanan macem-macem (Kitkat, Pocky dan sebagainya) itu juga banyak *biasanya cewek-cewek beli titipan masker-masker dan kosmetik disini*, intinya tinggal masukin aja mallnya satu-satu sama telusuri semua pertokoan di sepanjang jalan ichibancho dan sekitarnya.

Ichibancho Arcade Shopping Area, itu masuk situ pertokoannya di sepanjang jalan itu (Photo courtesy wordpress)

Kalo saya sendiri dari semua toko baju yang ada, paling suka belanja di GU, murahnya nggak ketulungan, ini merk asli dari Jepang sih dan katanya masih sepersaudaraan sama Uniqlo, satu bapak satu ibu, cuman dia jauh lebih muda *adiknya berarti* dan lebih murah. Dengan bahan yang oke dan mode baju yang basic tapi kekinian sungguh saya paling habis banyak belanja disitu dan kembali berkali-kali, sampai sekarang pun saya masih menyesal kenapa hanya membeli satu blazer, disaat disana banyak sekali pilihan blazer dan harganya AMAT MURAH. Hal ini membuat saya dipanggil teman-teman saya sebagai brand ambassador GU. (BACA: Survival Shopping tips in Sendai)

This is MY FAVORITE!!!!!!!!! Murahnya nggak ketulungan (Photo courtesy http://blog.gogotohoku.jp)

Kalo untuk kuliner di Eki banyak banget kafe dan restoran, tapi kalau kalian nyarinya semacam jajanan Jepang macam okonomiyaki atau takoyaki bakal agak susah sih. Ada sih kayaknya yang jual tapi nggak sespesial, sebanyak dan seterkenal di Osaka atau kota lainnya. Nah kalo Sendai sendiri, kuliner kebanggaan dan yang paling di-khas-kan disini adalah gyutan, alias lidah sapi panggang. Banyak kok yang jual tapi pasti masuk restoran ya, nggak ada kayaknya yang jual di booth-booth gitu. Alhamdulillah saya sempet nyobain gratis *rejeki masih mahasiswa*.

Gyutan, makanan yang paling dibanggakan sama Sendai (Photo courtesy http://www.japanican.com)

Kalo pas kami pergi cari makan sendiri sih sudah jelas ujung-ujungnya cari makannya ke Yoshinoya, kalau nggak ya ke saingan atau sodara kembarnya, Sukiya. Ini sekalian jadi tips makan buat kalian yang mungkin pergi backpacker-an murah-murah ke Jepang. Selain tentunya prinsip beli makanan di convenience store, dua fastfood-chained-restaurants ini termasuk jadi pilihan yang paling murah, cepat pelayanannya dan paling gampang dicari di seluruh pelosok Jepang, ibaratnya kayak nyari warung penyetan kalo di Indonesia *lebay mode on*. Dua-duanya jualannya sama sih, beef bowl (gyudon), sama juga buka 24 jam. Bedanya kalo Sukiya menunya lebih di-fusion lagi dan menunya lebih beraneka ketimbang Yoshinoya, ada yang pake keju lumer di atasnya, ada Japanese curry, dan lain sebagainya, harganya sih mirip-mirip nggak jauh beda. Sempet juga sih makan di kafe yang jual pasta dan cake yang agak lebih premium, lupa namanya, yang pasti dia banyak kok outletnya di seluruh Jepang, nggak cuman di Sendai aja. Oh ya sempetin juga kalo ke Jepang nyobain udon dan ramen asli sini, sekalian juga ikan-ikan segar dan sushi-sushi, yah meski harganya lebih premium tapi bisa kok sepiring berdua. Informasi lagi, di Jepang rata-rata porsi makanannya besar! Kita bisa aja sharing sama teman lain beli cuma satu porsi, tapi ya paling waiternya agak ngomel dikit, soalnya di Jepang pasti satu orang pesen satu sendiri. Mereka makan banyak karena jalan kakinya juga banyak kemana-mana, beda sama kita banget yang termanjakan oleh motor dan mobil *nah lo*.

Outlet Sukiya di Sendai (Photo courtesy http://www.quora.com/)

Oh ya di AER Building selain mallnya ada Pokemon Center dan Uniqlo, disitu juga ada observatory terrace-nya lho di lantai 31, kalo pada ingin lihat Sendai dari ketinggian bisa coba-coba kesini, free! Untuk kesana, liftnya masuknya lewat yang gedung perkantorannya, ada sendiri lift yang khusus buat ke lantai 31, bukan lift yang ada di mallnya. Saya disana baru ngeh kalo Sendai ini dikelilingi oleh pegunungan. Oh ya terrace nya ada dua sisi, satu ke kanan, satu ke kiri (setelah keluar lift di lantai 31), pemandangannya beda sih karena ngadepnya ke arah yang beda.

AER Building (Photo courtesy http://blog.gogotohoku.jp)

Ini diambil dari lantai 31 AER Building, kelihatan seluruh bangunan Sendai, ya ini area Eki, surga belanja!

Dari sisi satunya kelihatan jalanan kota dan track kereta JR, bisa ngefoto kereta shinkansen komachi!!!

Sudah pasti kalap kalau kesini, semua minta dibeli saking lucunya!!!!!!! *pokemon fanatic detected*

Nah untuk satu hari kosong yang kita dapatkan dari pihak kampus kami gunakan ke Sendai Umino-Mori Aquarium. Pas itu tempat ini masih baru-barunya buka sih, jadi masih ramai banget. Di dalemnya ya ada aquarium yang isinya macem-macem binatang laut, area pinguin, area dolpin show, cafetaria dan tentu souvenir shop. Overall sih jujur ekpektasi awal saya kesana akan mendapatkan pemandangan indah dan romantis kayak di aquarium-aquarium Jepang yang selama ini saya lihat di komik atau film Jepang, namun saat kesana.... menurut saya seaworld di Jakarta atau Taman Safari juga nggak kalah kok *the safest answer ever*.

Sendai Umino Mori Aquarium

Harga tiket masuk pas tahun 2015 lho ya ini pas saya kesana hahaha

Aquarium raksasa di Umino Mori, macem-macem ikannya banyak banget

Pingu pingu, yang beginian di Taman Safari Prigen juga ada ya.... *oops*

Setelah dari Umino Mori, saya dan teman-teman lalu diajak makan siang di Kappa Sushi oleh kedua dosen kamiIni nih yang wajib coba *banget* kalo pas visit ke Jepang! Buat yang belum tau, Kappa Sushi ini rotation sushi chained-restaurant yang terkenal di Jepang (kaiten sushi), bahkan kayaknya udah ada cabang di luar Jepang juga. Nah kalo di Sendai, Kappa Sushi ini tempatnya pas sebelahan dengan stasiun kereta yang paling dekat dengan Umino Mori, dimana stasiun ini juga jadi tempat berhenti shuttle bus gratis dari dan ke Umino Mori. Nah sistem makannya selain ambil piring yang berputar di conveyor belt juga bisa pesan di layar monitor yang ada di tiap meja. Nantinya sushi yang dipesan akan datang dikirimkan dengan kereta shinkansen mini di belt khusus. Kalau untuk bayarnya nanti bakal dihitung dari total tumpukan piring sushinya di meja.

Kappa Sushi, yang atas belt shinkansen, yang bawah belt biasa (Photo courtesy http://www.japantrends.com/)

Layar touchscreen buat mesen sushi lewat belt shinkansen (Photo courtesy http://www.japanesesearch.com)

Malam terakhir kami di Sendai saat itu ada agenda farewell party dari pihak kampus, nah pas ini saya diajak makan sashimi di daerah Kokubuncho, nah daerah ini cocok sekali untuk kalian yang suka clubbing, chilling and mingling. Kalo Eki itu pusatnya belanja dan commercial district, nah kalo Kokubuncho ini pusatnya hiburan alias entertainment district punya SendaiJalanan di daerah ini full tempat orang kumpul-kumpul, dari restoran, night club, bar, pachinko, sampai karaoke semua ada disini. Banyak memang pekerja-pekerja di Sendai yang pulang kantor terus melepas lelah disini. Tak lupa di daerah ini tentunya juga sebagai....... red light district alias penjaja kasih sayang satu malam *hati-hati ditawar pas lewat hahaha* jadi kalau kesini kalau bisa jangan bawa anak di bawah umur ya.

Sampai jumpa di Part 6, saat kami meninggalkan Sendai dan kembali berkeliling ke Tokyo selama setengah hari sembari menunggu flight kepulangan kami ke Indonesia malam harinya. See you!


No comments:

Post a Comment