TRIP TO JEPANG! - Part 3 (KYOTO)

Melanjutkan cerita sebelumnya di Osaka (BACA: Trip to Jepang! - Part 2), saatnya seharian ini saya dan teman-teman saya berkelana berkeliling kota cantik dan indah, Kyoto!

Kiyomizudera adalah salah satu tempat yang wajib dikunjungi saat mengunjungi Kyoto

Yap, Kyoto terkenal akan ciri khas bangunan, budaya dan wisata yang kental dengan tradisi kuno Jepang. Di kota inilah kita bisa benar-benar merasakan keindahan atmosfer yang otentik dari negeri Jepang itu sendiri. Kalau kita sedang berada di Osaka atau apalagi Tokyo, kebanyakan yang kita lihat adalah pusat perbelanjaan, perkantoran dengan gedung-gedung tinggi dengan segala kehidupan metropolitan dan modernisasinya, nah di Kyoto ini kita bisa menemukan tempat yang lebih damai dan tentram, karena Kyoto adalah kota wisata yang mengandalkan budaya tradisional Jepang. Bagi anda yang suka dengan kentalnya budaya asli Jepang, tidak ada salahnya menghabiskan semalam dua malam di kota kecil ini dan memilih penginapan tradisional.

Perjalanan Osaka to Kyoto


Kyoto adalah surga bagi para traveler yang mungkin sangat tertarik dengan budaya asli orang Jepang dan segala bangunan-bangunan kuno yang menyertainya. Di kota ini, jalur kereta lokal JR pun terbatas hanya menjangkau beberapa area saja, utara dan selatan, tidak seperti di kota besar lainnya. Stasiun-stasiun di tiap pemberhentiannya pun terhitung sangat kecil, tentu satu-satunya stasiun kereta yang paling besar dan megah adalah Kyoto Station, yang juga merupakan pusat atau jantung utama dari kota Kyoto sendiri.

Kami keluar dari penginapan di Osaka sekitar pukul 6.30 pagi dan kemudian langsung menuju Osaka Station. Sebelumnya kami sempatkan terlebih dahulu membeli sedikit sarapan kecil di Lawson. Sampai di Osaka Station, ada dua cara yang bisa digunakan untuk menuju Kyoto Station, cara pertama ialah dengan langsung menggunakan JR Kyoto Line dari Osaka Station yang terhitung kereta lokal dan memakan waktu sekitar 45 menit, dan yang kedua,  menuju ke Shin-Osaka Station terlebih dahulu dan kemudian baru naik Shinkansen menuju Kyoto yang hanya memakan waktu sekitar 20 menit. Dua-duanya sama-sama tercover oleh JR PASS yang kami miliki dan masing-masing memiliki plus minus satu sama lain, dan pada saat itu kami lebih memilih menaiki JR Kyoto Line saja karena langsung berangkat dari Osaka Station meski waktu tempuhnya lebih lama. 

Sampai di Kyoto Station, memang benar stasiun ini terhitung amat sangatlah megah dan futuristis. Bangunan atapnya membentuk kubah raksasa dengan kaca-kaca yang tentu pasti didesain oleh arsitektur yang berkelas. Stasiun ini juga menyatu dengan pusat perbelanjaan di bawah maupun disampingnya, mudah sekali mencari tempat makan disini. Di luar stasiun Kyoto ini juga terdapat terminal bis yang memang merupakan central station dari semua bis di Kyoto sendiri, maka dari itu stasiun Kyoto ini merupakan jantung utama dari kota Kyoto sendiri.

Fushimi Inari-taisha


Oke, begitu sampai di Kyoto Station, sesuai itinerary yang kami sudah buat sebelumnya, pertama kali kami akan menggunakan kereta JR untuk menuju Fushimi Inari, atau lebih dikenal dengan sebutan kuil seribu torii (gerbang masuk kuil). Dari stasiun Kyoto kami mengarah ke selatan menuju stasiun Inari. Benar saja, stasiun Inari ini sangatlah kecil, jalanan di depannya pun kecil dan sudah merupakan perumahan warga, meski ada Lawson tepat disebelahnya. Untuk menuju Fushimi Inari sangatlah mudah, begitu keluar dari stasiun, pasti sudah langsung terlihat arah masuk menuju kuil Fushimi Inari di sebrang jalan agak ke kiri.

Menuju masuk area kuil Fushimi Inari, semakin ke dalam jalanan semakin ke atas

Tiba di Fushimi Inari sekitar pukul 8 pagi, memang benar-benar indah dan sejuk. Kuil yang ternyata dibangun di atas bukit ini dipenuhi ratusan torii di sepanjang jalannya hingga menuju puncak bukit yang sebagian besar disumbangkan oleh para perusahaan/pebisnis Jepang sebagai ungkapan syukur atas bisnisnya, dan juga orang-orang Jepang secara pribadi sendiri yang juga bersyukur atas kehidupannya. Oh ya, untuk masuk ke kuil ini tidak dikenakan biaya apapun a.k.a gratis sepenuhnya! Karena itu kuil ini juga memiliki jam operasional yang panjang, sudah buka dari jam 6 pagi hingga malam hari, itulah alasan mengapa kami memilih mengunjungi tempat ini terlebih dahulu karena memang sudah buka dari pagi hari.

Jajaran torii di sepanjang jalan menuju puncak bukit di Fushimi Inari-taisha

Sebelum masuk, tampak sederetan pancuran air beserta gayung untuk mencuci tangan kita terlebih dahulu sebelum memasuki kuil. Entah saya tidak tahu hal itu dimaksudkan untuk apa, entah itu holy water atau apa, mengingat semua papan panduan disana bertuliskan hiragana katakana dan kanji yang tidak saya mengerti, yang jelas yang saya tangkap sampai sekarang mungkin hal ini dilakukan sama seperti kita yang muslim harus berwudhu saat sebelum masuk masjid untuk sholat *hahaha*.

Area mencuci tangan yang terletak tepat sebelum masuk area kuil

Bagi anda yang memang penasaran bagaimana melihat pemandangan kota Kyoto dari puncak bukit, anda bisa langsung mendaki tangga demi tangganya. Saat saya kesana, kami bertiga memilih tidak hiking sampai ke atas bukit karena pasti akan menghabiskan banyak waktu, akhirnya kami hanya sampai di bawah, berfoto-foto ria dengan torii gates, membeli beberapa souvenir yang berada di meja di tengah kuil yang tidak ada penjualnya *semacam kantin kejujuran*, lalu kemudian masuk ke toko-toko souvenir di luar, dan segera kembali ke stasiun Kyoto untuk menuju tempat wisata berikutnya. Sebelumnya kami sempat mampir membeli takoyaki di area jajanan di dekat pintu keluar.

Beberapa pengunjung juga khusus datang kesini untuk berdoa, tidak hanya untuk berwisata
Ada banyak stand streetfood berjejer di arah gate keluar Fushimi Inari-taisha, salah satunya menjual takoyaki

Saran saya, apabila anda memang ingin berfoto dengan cantik disini, dengan latar belakang ratusan torii di belakangnya, tidak lain adalah anda harus datang bukan pada saat masa liburan ataupun weekend! Dengan begitu, anda tidak perlu mencari cara atau menunggu waktu agar tidak anda penampakan orang lain di sepanjang lorong a.k.a fotonya bocor (photobombed). Mengingat Kyoto adalah kota wisata, sudah tentu saja yang berwisata kesini tidak hanya turis mancanegara, namun juga masyarakat Jepang dari berbagai penjuru juga banyak kesini pada saat liburan, ditambah lagi jika ada study tour siswa sekolahan Jepang yang super duper berombong-rombong. Tips ini mungkin berlaku untuk semua kunjungan wisata di Kyoto yah, tidak hanya di Fushimi Inari saja. Kyoto akan sangat ramai saat liburan dan weekend tiba, kami sudah mengalami ketidakberuntungan berkali-kali karena kunjungan ke Kyoto ini kami lakukan saat hari Sabtu! *Oh God!*


Toko-toko souvenir berjajar di Fushimi Inari, kalo mau beli torii kecil dibawa pulang bisa beli disini 

Arashiyama (Bamboo Grooves, Tenryuji Temple, Train Museum)


Dari Fushimi Inari kami kemudian menuju Arashiyama, sebuah daerah di utara Kyoto yang juga sangat indah. Kami menempuh perjalanan dari Inari Station menuju Kyoto Station. Dari Kyoto Station, kami berpindah jalur ke arah utara kota Kyoto untuk menuju Saga Arashiyama Station, tetap menggunakan JR Line. Sesampainya di stasiun Saga Arashiyama, karena tidak tahu arah harus kemana, kami menggunakan aplikasi Google Maps untuk menuntun kami menuju Tenryuji Temple dan Togetsukyo Bridge. Yap, disinilah kesalahan kami tidak bertanya ditambah hanya mengikuti turis-turis mancanegara lain yang sama-sama tidak tau rute, akibatnya kami harus berjalan sekitar 2 km lebih untuk menuju tempat tersebut diiringi sengatan matahari yang teramat terik, meski di sepanjang jalannya banyak toko-toko di kanan kiri.

Sebenarnya perjalanan menuju area wisata di Arashiyama dapat ditempuh dengan lebih "ramah kaki", yakni dengan rute Bamboo Grooves terlebih dahulu dan kemudian lurus menuju Tenryuji Temple dan terakhir ke Togetsukyo Bridge. Rute ini terhitung lebih ramah karena untuk menuju Bamboo Grooves dari stasiun Saga Arashiyama hanya tinggal belok ke kanan, mengikuti jalanan kecil, melewati rumah-rumah ala Jepang yang ada seperti di kartun Doraemon, hingga bertemu dengan Bamboo Grooves itu sendiri, dan tidak jauh dari situ sudah bisa menuju Tenryuji Temple dan kemudian yang paling ujung ialah Togetsukyo Bridge. Hal ini baru kami sadari dengan bodohnya saat berjalan kembali dari Bamboo Grooves menuju stasiun Saga Arashiyama, saat akan pulang kembali ke Kyoto Station *teng, teng, jackpot!*.

Tiba di depan gerbang depan menuju Tenryuji Temple, kami kelelahan akibat panasnya matahari. Tampak di ujung jalan di sudut pertigaan ada kedai penjual es krim matcha (teh hijau Jepang) dan kamipun tergiur membeli sambil kemudian duduk-duduk istirahat sebentar di depannya. Kyoto memang kota wisata tradisional, tidak sedikit kami melihat orang-orang baik wisatawan ataupun warga asli Jepang yang menggunakan yukata atau kimono berlalu-lalang di kota ini. Memang di kota ini banyak sekali tempat persewaan yukata dan kimono, mereka bahkan juga akan menata rambut dan mendandani anda agar tampak seperti orang Jepang sebenarnya.

Tenryuji Temple, kami memilih tidak sampai masuk ke dalam karena antrian mengular dan ada biaya tiket
Matcha ice cream di jalanan Arashiyama!! Mendinginkan panasnya Jepang, sayang gampang banget leleh!

Setelah berkunjung ke Tenryuji Temple, sebenarnya kami ingin menuju Togetsukyo Bridge, namun karena keterbatasan waktu akhirnya kami memilih langsung menuju Bamboo Grooves, mengingat arah keduanya sangat berlawanan arah, yang satu ke kanan, yang satu ke kiri. Dari Tenryuji Temple, kami berjalan sekitar 500 meter dan sampailah di Bamboo Grooves, intinya tinggal perhatiin dan ikutin aja papan penunjuk arahnya, meskipun kecil tetapi sangat membantu. Sepanjang perjalanan, kami menyadari bahwa Arashiyama yang tadinya saat kami tiba tampaknya sepi ternyata semakin siang semakin ramai wisatawan. Benar saja, saat di Bamboo Grooves benar-benar penuh orang, impian foto ala-ala selebgram di instagram pun pupus sudah, fotonya bocor sana-sini hahaha.


Jalanan Bamboo Grooves sungguh ramai orang di hari weekend, harapan foto kece pupus sudah

Dari Bamboo Grooves, kami berencana segera kembali menuju stasiun Saga Arashiyama. Di jalanan yang kecil itu kami melewati salah satu bangunan besar di sebelah kiri, dan di dalamnya terdapat sebuah lokomotif besar. Kami melewati sebuah pintu masuk sebuah bangunan yang ditempeli kertas bertuliskan "Train & Music Museum: Free!"

Train & Music Museum di Arashiyama, isinya lokomotif-lokomotif sejenis Hogwarts Express

Museum ini berisikan lokomotif-lokomotif tua raksasa dan juga sebuah grand piano besar di tengah ruangan yang memainkan tuts-tutsnya sendiri sepanjang hari. Di dalamnya juga terdapat cafe dan souvenir shop untuk sejenak melepas rasa lelah dan berlindung dari panasnya Kyoto di hari itu. Di akhir saat akan kami keluar bangunan tersebut, ternyata museum ini gabung menjadi satu dengan Saga Torokko Station yang terletak tepat bersebelahan dengan JR Saga Arashiyama Station. Dari stasiun inilah, kereta wisata Sagano Scenic Railway berjalan. Sayang sudah pasti saya tidak mungkin sempat menaiki kereta wisata tersebut, menurut orang-orang disana akan sangat indah dan terbayar kalau anda naik kereta wisata tersebut (lagi-lagi) saat musim semi, dan tentu anda disarankan memesan seat terlebih dahulu sesuai jam-jam keberangkatan yang tertera karena bisa saja sold out!

Setelah dari Arashiyama, kami langsung menuju kembali ke stasiun Kyoto. Hari sudah agak siang menjelang sore dan kami yang kelaparan pun akhirnya berkeliling di stasiun Kyoto yang besar itu terlebih dahulu sebelum menuju tempat wisata berikutnya untuk memburu makanan. Berkeliling di stasiun Kyoto sungguh melelahkan! Bagaimana tidak, stasiun ini sungguh besar dan tinggi! Dari lantai dasar kami menaiki eskalator demi eskalator sampai ke puncak, saat tiba di puncak nyatanya masih ada ratusan anak tangga lagi, macam stairway to heaven *lebay* dan ujung-ujungnya kami tidak menemukan tempat makan dan berakhir kembali menuju lantai basement. Keputusan kami tepat kali ini untuk menuju basement, banyak sekali tempat makan di bawah, kami berhenti di salah satu restoran udon disana yang benar-benar ramai dan mencoba semangkuk cold udon.

Stasiun Kyoto, tampak eskalator demi eskalator menuju ke atas dan atasnya lagi, di basement ada mall kecil

Sampai di ujung eskalator teratas, masih ada tangga dan eskalator ke atas lagi *capek*


Display makanan restoran udon di basement Stasiun Kyoto, pilih menu cold udon biar tau rasanya!

Perjalanan dilanjutkan. Tujuan kami selanjutnya tidak lain adalah kuil Kiyomizudera. Salah satu tempat wisata yang harus dikunjungi saat berkunjung ke Kyoto, tempat ini juga tempat wisata yang paling mainstream sepanjang sejarah dan selalu ramai nggak ada sepinya hahaha.

Untuk menuju Kiyomizudera, kita memang harus menggunakan bus kota. Yap, memang bus adalah transportasi yang utama untuk berkeliling di Kyoto. Di area depan stasiun Kyoto, dengan mudahnya kita bisa menemukan puluhan station bis dengan nomor dan rute yang berbeda untuk menuju seluruh pelosok Kyoto. Tinggal kita pelajari saja rutenya, hafalkan nomor bisnya, lihat jam kedatangannya, kemudian mengantrilah di dekat station-nya, jangan pernah takut tersesat. Oh ya informasi tambahan, ada tiket bus khusus wisatawan seperti tiket 1-day-pass yang bisa digunakan untuk semua rute, apabila anda memang sudah berniat dari awal menggunakan bus seharian sepanjang perjalanan anda di Kyoto, tidak salah apabila anda membelinya karena sudah jelas akan lebih ekonomis.

Saat tiba di dekat terminal Kiyomizudera, benar saja sepanjang jalanannya macet! Kamipun turun di station terdekat dan segera menuju ke arah kuil Kiyomizudera. Ternyata untuk ke kuil satu ini butuh perjuangan yang agak besar, karena kuil ini terletak di puncak bukit *lagi-lagi*. Ya meskipun di sepanjang jalanan yang menanjak itu di kanan kiri banyak toko-toko souvenir, tempat persewaan kimono, cafe dan tempat-tempat fancy lainnya yang jual makanan dan minuman yang kelihatannya enak *antriannya luar biasa*, benar saja saya dan teman-teman tetap kewalahan padahal kami belum sampai di area kuil sedikitpun, energi kami sepertinya sudah banyak terkuras di tempat wisata sebelumnya dan di hari-hari kemarin hahaha.

Begitu kami tiba di area masuk kuil, ada dua jalan berbeda. Satu adalah rute biasa, yakni dengan menaiki anak-anak tangga ke atas melalui gerbang raksasa, atau - seperti yang kami pilih, melalui jalan yang lebih landai di sebelah kiri yang sebenarnya dibuat dan dikhususkan untuk para difabel dan juga lansia. Akan ada sign yang menandakan rute untuk lansia ini di area tersebut. Jalur ini lebih menguntungkan kami: satu, karena jalannya sangat landai tanpa adanya anak tangga; dua, rute ini jauh lebih sepi dari lautan manusia seperti rute biasa; tiga, banyak sekali pepohonan hijau yang membuat jadi sejuk sekali adem udaranya; empat, banyak spot-spot foto dan anda bisa berfoto sepuasnya tanpa harus malu, sungkan, mengganggu dan "bocor" karena banyak orang lain.

Rute normal menuju pintu masuk Kiyomizudera, melalui gerbang dan menyusuri naik tangga-tangga tersebut

Melalui rute untuk difabel dan lansia menemukan jalanan tanpa tangga dan lebih landai menuju pintu masuk kuil

Sempat berfoto-foto dulu dengan puas, menemukan spot foto bisa foto OOTD kekinian kalo lewat sini

Tiba di depan gate karcis, kami segera membeli tiket masuk *lupa harganya berapa*. Karena energi kami yang sudah sangat drained tadi, akhirnya kami hanya berfoto-foto sebentar saja di area awal kuil tanpa berkeliling menyusuri seluruh area kuil ini. Rutenya cukup panjang dan memutari seluruh bukit, yang pasti naik dan turun sekali. Dari area depan tersebut saja kami sudah bisa melihat pemandangan yang indah dari seluruh area kuil termasuk tiga pancuran air di bawah yang konon katanya mendatangkan kebaikan jika kita mencuci tangan disitu. Dari yang saya dengar, anda hanya boleh mencuci tangan di salah satu pancuran saja, tiap pancuran melambangkan tiga hal yang berbeda dan anda dipersilahkan memilih satu, salah satunya seingat saya melambangkan cinta *ciyee yang jomblo langsung melek*. Jika ketiganya semua anda pilih maka anda akan dianggap tamak dan justru kebaikan tidak datang pada anda. Tips saja, belajar dari pengalaman teman, lebih indah lagi jika anda datang ke kuil ini saat musim semi dimana dedaunan berubah menjadi kuning dan merah kecoklatan!

Perjuangan kami hanya sampai disini, kalau mampu bisa jalan memutari bukit dan turun ke bawah (lalu naik lagi)

Jika anda masih penuh on fire dan bersemangat bisa berjalan sampai ke kuilnya di sebrang sana

Dari atas sudah terlihat tiga pancuran air yang terkenal, lumayan banyak yang antri ingin mencoba

Selepas dari kuil Kiyomizudera, kami berjalan kaki menuruni bukit menuju Gion. Sebelumnya kami memilih rute melewati Sinnenzaka dan Ninnenzaka, area di sekitaran Kiyomizudera yang instagrammable karena penuh pemandangan bangunan rumah khas Kyoto di kanan kiri dengan puluhan anak tangga yang membuat tempat ini menjadi salah satu spot foto terbaik di area ini, tidak ada salahnya anda juga mampir melewatinya karena jalannya sejalur dengan arah turun bukit.

Ninnenzaka Stairs: Salah satu spot foto yang tidak boleh dilewatkan di sekitaran Kiyomizudera

Setibanya di Gion, sebenarnya kami masih ingin berkeliling lagi di area tersebut, mengunjungi dan melihat geisha yang terkenal mudah ditemui di area ini, namun sungguh kaki kami sudah tidak bisa diajak berkompromi, segeralah kami ke bus stop terdekat untuk kembali ke stasiun Kyoto untuk langsung kembali pulang ke Osaka.

Mungkin masih banyak sekali area yang belum kami kunjungi di Kyoto ini termasuk Kinkakuji (The Golden Pavilion), sungguh saya ingin ada satu hari tambahan untuk berkeliling di kota indah ini namun waktu kami sungguh-sungguh terbatas. Sekembali kami di Osaka, kamipun langsung memagarkan diri di penginapan sampai keesokan harinya, meski malam-malam saya sempat keluar sebentar ke 7-eleven di seberang jalan untuk membeli snack, dua teman saya yang lain sudah tidak sanggup keluar-keluar sama sekali... *tabah yaa* Bersiap untuk kepindahan kami besok ke Tokyo dan segera bertemu dua teman kami yang lain yang baru tiba dari Surabaya, yeay akhirnya lima anak ayam segera berkumpul! (BACA: Trip to Jepang! - Part 4)


No comments:

Post a Comment