TRIP TO JEPANG! - Part 2 (OSAKA)

Photo courtesy of Wikipedia

Berlanjut dari Trip to Jepang - Part 1 di postingan saya sebelumnya mengenai persiapan dan keberangkatan, sekarang saatnya saya dan teman-teman dari bandara Haneda menuju Osaka!

Perjalanan Tokyo to Osaka


Untuk menuju Osaka, dari Haneda International Airport kami terlebih dahulu harus pergi ke Tokyo Station untuk menuju Osaka Station untuk menaiki kereta cepat Shinkansen. Dari Haneda, kami langsung naik Tokyo Monorail menunju Hamamatsucho Station, dan kemudian berpindah pada JR Yamanote Line untuk menuju Tokyo Station. Terima kasih JR PASS sangat membantu mobilitas kami, semua perjalanan tadi sudah included, jadinya semua terasa mudah karena sudah memiliki "tiket emas" ini (Baca: Membeli JR PASS di Surabaya).

Informasi tambahan aja ya, dari Haneda ke Tokyo ini sebenarnya ada dua macam kereta yang bisa digunakan, selain Tokyo Monorail ini juga ada Keikyu Line, gate-nya depan-depanan satu sama lain. Dua-duanya punya rute berbeda, tarif mirip-mirip, bedanya kalo yang Tokyo Monorail ini udah di-cover sama JR PASS, jadi nggak perlu bayar lagi. Untuk ke semua rute perjalanan ini beserta timetable dan segalanya bisa dicari lewat HyperDia yah, lengkap disana semua, situs itu jadi sering dibuka selama saya disana, kayak buku kitab penentu arah hahaha.

Waktu kita berpindah ke Yamanote Line, wusss mata agak terbelalak ngeliat keretanya bener-bener penuh, harus disempit-sempitin biar cukup nih badan plus koper-koper raksasa kita, kayaknya jarak satu orang sama orang lain tinggal sejengkal doang! Emang sih kata orang-orang, jalur ini terkenal dengan rute tersibuk dan selalu full di antero negeri sakura, mau jam berapapun dan hari apapun, mengingat emang keretanya berhenti di stasiun-stasiun yang emang daerah bisnis, perkantoran dan juga tentunya pusat perbelanjaan.

Selanjutnya sampailah di Tokyo Station yang amat sangat besar dan ramai, ya RAMAI! Apalagi waktu kita sampai disana, jamnya lagi jam-jam rush hour orang-orang Jepang lagi pada berangkat kerja, gimana nggak semua orang sana buru-buru, silang sana, silang sini, udah kayak semut, robot pabrik dan semacamnya, kita yang turis dan ngebawa koper besar-besar pertama kali liat cuma bisa diem aja bengong bingung sambil ngliatin papan arah platform kereta di tengah orang lalu-lalang *macam di film-film timelapse*. Mau nggak mau ya akhirnya kita juga harus ikut jalan cepet kayak yang lain *setengah lari bahkan* kalo nggak ya alhasil kita pasti bakal ditabrak sana-sini. That's why saya kemarin udah bilang kalo fisik itu bener-bener dibutuhin selama nge-trip di Jepang.

Yap, orang Jepang emang bener-bener ngehargain waktu banget. Kebanyakan kita di Indonesia kalo jalan pasti jalannya santai, berangkat ke suatu tempat dimepet-mepetin sama jam janjian atau jam kantor, otomatis datengnya di tempat tujuan juga antara mepet atau nelat *oh God, me included!*. Jangan pernah berpikir ya kalo selama jadi turis di Jepang bisa seenaknya aja, disitulah seninya jadi turis mancanegara, harus bisa beradaptasi ama lingkungan yang baru. Dipikir-pikir hal ini bisa jadi seru lho, bisa ngelihat kehidupan sehari-hari mereka, bisa ngeliat apa yang positif dan bisa nyontoh dari kebiasaan mereka. Nanti deh saya bikin satu postingan sendiri tentang kebiasaan-kebiasaan orang Jepang, tips dan juga do & don't(s) as a tourist selama kita berpergian disana.

Oke lanjut, dari Tokyo Station ini kita langsung cus naik Shinkansen ke Osaka. Tokyo-Osaka sendiri makan waktu perjalanan sekitar 3 jam, padahal jaraknya keitung jauh macam Jakarta-Surabaya. Berhentinya kereta ini nanti di stasiun Shin-Osaka, bukan Osaka Station. Shin-Osaka ini emang stasiun di Osaka yang dimana kereta Shinkansen berangkat dan berhenti, jadi kalo mau pergi antar kota dari dan ke Osaka ya pasti dari sini. Dari situ baru kita lanjut naik kereta lokal ke Osaka Station dan kemudian langsung menuju penginapan kita di daerah Shin-Imamiya.

Penginapan di Osaka (Shin-Imamiya Hotel)


Keluar-keluar dari stasiun Shin-Imamiya, eh hujan deres banget. Keluarin deh payung lipat kecil buat melindungi badan sekaligus koper raksasa kita *ujung-ujungnya tetep basah kuyup*. Nah, untuk penginapan di Osaka ini, kami memilih di Shin-Imamiya Hotel, cuma jarak sekitar 50 meter aja kayaknya dari stasiun. Kenapa kami memilih hotel ini, tentu karena selain murah, dekat stasiun, dekat Lawson, terus baca review-nya juga lumayan, dan ternyata hotel ini termasuk capsule hotel! Apa itu hotel kapsul? Ya tidak lain adalah hotel dengan tempat tidur di dalam kapsul yang juga berisi colokan, lampu, televisi (kalo ada), cermin dan sebagainya. Intinya kamar kita ya cuma kapsul itu, harus dicoba sih menurut saya kalo liburan ke Jepang karena ini salah satu hal yang unik dan original made in Japan.

Sampai di Hotel Shin-Imamiya dengan baju dan koper 70% basah sekitar jam 2 siang, ternyata kita baru bisa check-in jam 3. Menunggulah kita di lobby sambil ber-WiFi ria menggunakan fasilitas WiFi hotel meski sudah bisa berinternet pake kartu internet provider Jepang (BACA: Membeli Kartu Internet Docomo Jepang di Surabaya).  Ketika sudah bisa check-in dan menuju kamar, ternyata hotel ini tidak sepenuhnya bisa disebut kapsul hotel. Kenapa? Karena ternyata setiap 1 kapsulnya ada di dalam 1 kamar sendiri yang berukuran kecil, yang juga di dalamnya ada meja, kursi dan lemari baju serta colokan listrik, a.k.a private room. Hotel kapsul yang "asli" ialah yang harusnya kapsulnya berjejer-jejer banyak dua tingkat dalam satu ruangan besar. Kami merasa beruntung, apalagi saya yang dapet kamar paling besar, karena koper-koper raksasa kami pun akhirnya bisa punya tempat yang cukup di dalam kamar sendiri, dan juga satu lagi, bisa njemur baju sesuka hati dan cukup banget buat tempat sholat.

Kamar saya di Hotel Shin-Imamiya, cukup luas dan nyaman, yang paling penting bersih
Saya dapet kamar yang paling luas dibanding yang lain, bahkan bisa sampai foto-foto sendiri, Hore!

Shinsekai, Namba, Shinsaibashi, Dotonburi


Setelah mandi dan beristirahat sebentar di hotel, hujan pun juga sudah reda, kami keluar untuk memulai jalan-jalan di hari pertama ini. Tujuan pertama kita tidak lain adalah untuk mengisi perut yang sudah sejak pagi kosong *cuma sarapan di 7-Eleven bandara*. Akhirnya kita ke tempat yang nggak jauh-jauh di daerah situ, sekitar 100-200 meter dari hotel, Shinsekai. Shinsekai ini semacam pusat makanan di Osaka yang emang khas sih, beda sama kayak Namba yang juga campur sama pusat perbelanjaan modern, disini full cuma ada makanan dan makanan. Karena disitu banyak banget restoran-restoran yang menarik, banyak gambar-gambar dan balon-balon ikan raksasa, ditambah semua pelayan-pelayannya yang berjejer di luar sambil teriak-teriak dan nunjukin menu, kitapun sempet kebingungan mau milih makan dimana. Area Shinsekai ini termasuk area yang rada "thug life" alias banyak orang-orang macam "preman"nya hahaha, tapi tetep aman kok, toh pengunjungnya juga banyak turis luar Jepang, paling kalo ada orang sana lagi mabuk meracau terduduk di salah satu sudut restoran abaikan aja, nggak usah dianggap dan cari tempat yang agak jauh darinya hahahaha.

Suasana di Shinsekai, rada "thug life" sih kalo makan disini haha tapi tetep aman kok :)
Banyak sekali daftar menu dan tulisan disini, jadi susah mau fokus pilih restoran yang mana

Pilihan kemudian jatuh kepada salah satu restoran di persimpangan, dipesanlah beef udon. Karena kami semua muslim dan takut misal kena makanan yang ada campuran hewan non halal itu, konon katanya denger-denger dari temen dan dari baca beberapa blog *entah sesat atau enggak ya*, kalo udon itu pasti kuahnya masaknya dari kaldu ikan, kalo ramen udah jelas pasti ada kaldu non halal (kecuali emang restoran ramennya ada label halal semacam di Asakusa, Tokyo atau menahbiskan diri murni menggunakan kaldu ikan 100% kayak restoran di Shinjuku, Tokyo). Alhasil kami dengan percaya diri memesan udon haha *udah nggak keitung juga berapa kali makan udon selama di Jepang*, ya yang penting bismillah dulu aja sebelum makan hehe.

Kedua teman saya menunggu beef udon, di sudut restoran yang lain ada yang lagi mabuk dan meracau, hii menghindar!!

Setelah selesai makan dan berenergi kembali, kami menuju stasiun Shin-Imamiya dan berangkat menuju Namba. Shinsaibashi dan Dotonburi ini juga hitungannya sekomplek sama Namba, jadi tinggal muter-muter jalan kaki aja disitu. Sampai disini, tentu yang menarik adalah melihat banyak makanan! Coba lihat, sepanjang jalan toko-tokonya ber-banner boneka *ato patung ya* kepiting, gurita, atau ikan raksasa yang bisa bergerak-gerak. Rata-rata mereka menjual okonomiyaki, takoyaki, kepiting rebus *gatau namanya*, ikan bakar, daging sapi kobe bakar, kerang bakar, es krim, crepes, cake-cake lucu dan banyak lagi. Kalau mau tau yang mana yang enak, karena mereka rata-rata jualannya sama, kuncinya beli di toko yang antriannya paling ramai aja, dijamin dapet makanan yang paling enak disana *meski antri, rata-rata cepet kok pelayanannya*.

Banner semacam ini banyak ditemukan di jalanan Dotonburi, kaki-kaki kepitingnya bisa bergerak!

Yang doyan belanja baju juga nggak kalah bahagia, banyak banget fashion store disitu, ada Uniqlo, GU, H&M, ZARA dan lain sebagainya. Yang suka belanja kosmetik macam masker, lotion dan sebagainya juga banyak toko-toko obat semacam Guardian tapi-yang-versi-murah ala Jepang, dan mereka biasanya juga sering jual snack-snack murah di depan tokonya. Kalo pada mau khusus belanja buat oleh-oleh berupa snack *ato dimakan sendiri* macam KitKat, Pocky dan teman-temannya, ada Donki (Don Quijote) juga disini. Kalo Donki ini dimana-mana ada kok, ada di berbagai kota, Tokyo, Osaka, semua ada, jadi semisal di Namba nggak nemu bisa ada di tempat lain, di dekat Shin-Imamiya Hotel sebenarnya juga ada dan sama-sama besar, letaknya di Maruhan.

Gemerlap jalanan di Dotonburi, Namba. Banyak banget streetfood dan toko buat belanja disini
Suasana Namba di malam hari, tampak toko Donki (Don Quijote) berwarna kuning
Dotonburi penuh penjual makanan! Surga takoyaki, okonomiyaki dan lain sebagainya
Tumpukan KitKat di Donki, termasuk toko yang jual dengan harga yang paling murah!
Di sepanjang jalanan Dotonburi bisa menyaksikan banyak live cooking, seperti satu ini, doi lagi masak scallop

Setelah puas masuk toko-toko dan nyobain street food ala Jepang, jangan lupa berfoto di depan banner Glico Man raksasa yang hits itu juga. Nggak terasa kami sudah berkeliling Namba hingga jam 10 malam, alhasil kami kemudian langsung memutuskan untuk pulang kembali menuju ke Hotel dan langsung beristirahat untuk menyetok energi untuk jalan-jalan esok harinya, ke Universal Studios!

Banner Glico Man, spot foto terwajib dan paling hits para turis di Dotonburi, Namba

Info lagi, sebenernya sorenya ini tadi setelah dari Shinsekai kami dari awal sudah berencana untuk mengunjungi Osaka Castle terlebih dahulu baru kemudian ke Namba hingga malam, mengingat Osaka Castle hanya buka hingga jam 5 sore dan Namba buka sampai tengah malam. Namun dikarenakan keinginan kami untuk mencoba jajanan street food ala Jepang lebih besar maka diputuskan langsung pergi ke Namba saja hahaha *jangan ditiru*.

Universal Studios Japan (USJ) & Namba Parks


Hari kedua di Jepang! Hari ini kami memang sudah berencana menghabiskan hari bermain di Universal Studios Japan (USJ) sampai malam. Kami keluar dari penginapan sekitar jam 7 pagi dan menyempatkan sarapan dan juga membeli sangu makanan untuk makan siang nanti di Lawson *lagi-lagi*. Perjalanan menuju USJ hanya memakan waktu sekitar 45 menit saja, itupun kita jalannya santai-santai tidak terburu-buru mengejar kereta, ditambah lagi sempat tergiur dan mampir ke toko waffle di stasiun Osaka.

Universal Studios Japan (USJ)

Sampai di USJ sekitar jam 8.15, di depan gerbang masuk sudah tampak berjajar pleton-pleton *dikira tentara* orang-orang yang duduk ngantri untuk nanti masuk, padahal USJ hari itu sendiri baru buka jam 9.30. Oh ya, untuk jam operasional (jam buka dan tutup) USJ ini sendiri bisa berbeda-beda tiap harinya, semuanya bisa dilihat di situs resmi USJ (KLIK DISINI). Jadi sebelum anda menentukan hari kunjungan anda, alangkah baiknya untuk melihat jam operasionalnya terlebih dahulu. Akan tetapi yang perlu diingat, bisa saja jam buka dimajukan apabila antrian orang-orang di depan gerbang masuk sudah terlihat sangat banyak dan penuh.

Antrian masuk di depan gerbang masuk USJ, padahal masih jam 8.15 pagi dan USJ baru buka jam 9.30! 

Sekitar jam 9 tampak para petugas penjaga gate sudah standby di tempatnya dan melambaikan tangan, kemudian tak lama setelahnya gate pun dibuka, perasaan sudah berkecamuk *alah* namun nyatanya yang boleh masuk hanya untuk pemegang tiket khusus saja yang ada fasilitas masuk USJ lebih awal, dan kemudian gate pun kembali ditutup dan para petugas menghilang. Sekitar 20 menit kemudian, tepat jam 9.30, para petugas kembali datang, melambaikan tangan, dan gate kembali dibuka untuk semua orang. Semua orang berjejalan masuk namun tetap rapi dan tidak saling sikut, namun setelah selesai menunjukkan tiket dan dipersilahkan masuk oleh petugas penjaga gerbang, disinilah awal mula kehebohan terjadi! Disinilah perjuangan dimulai! Disinilah anda akan melihat ratusan orang atau bahkan anda sendiri lari-lari semacam dikejar setan! Ada apa ya?

Semua orang, bahkan saya dan teman-teman saya sendiri, saat itu juga langsung berlari kesetanan sekuat tenaga, bahkan saya dan dua teman saya sudah saling tercerai-berai, entah mereka dimana *beruntunglah wahai para bule-bule berkaki jenjang yang sekali melangkah saja sama dengan 3-4 langkah kaki saya*, benar-benar edan! Saya juga sempat melihat sebuah botol minuman (tumbler) menggelinding jatuh dari orang yang berlari namun dibiarkan begitu saja, tidak diambil dan sepertinya dia merelakannya begitu saja, semua dilakukan hanya demi satu hal. Yap, kami dan juga semua orang berlari ke arah yang sama, kami punya satu tempat tujuan, yang tidak lain adalah area The Wizarding World of Harry Potter! Bagaimana tidak, area permainan ini hanya ada tiga buah di dunia, satu di Universal Studios di Jepang ini, dan dua sisanya ada di Universal Studios Florida dan juga Hollywood, hanya di Amerika sana. Ditambah lagi, yang lebih bikin gelisah, tidak semua orang bisa masuk ke dalam area ini. Terdapat sistem timed-tickets alias tiket berwaktu dan tentu ada batasan kuota berapa orangnya di tiap waktunya.

Tiket berwaktu yang baru bisa diambil setelah kita masuk USJ dan mesinnya sendiri berada di area taman di tengah-tengah USJ ini yang akan menentukan hidup dan mati kita semua *lebay*, apakah kita bisa masuk ke area Harry Potter atau tidak. Dari cerita teman-teman saya yang sudah berkunjung sebelumnya, mereka yang rata-rata baru datang dan masuk USJ sekitar jam 10an saja sudah kebagian tiket untuk area Harry Potter yang jam 3 atau 4 sore. Bagaimana bila anda baru mengambil setelah 30 menit setelahnya, jam 10.30 atau jam 11, mungkin anda sudah tidak kebagian kuota dan pupus sudah harapan anda untuk berkelana di impian masa kecil anda. Jauh-jauh sampai sini tapi keinginan tak terwujud, begitu seram persaingannya bukan?

Tips dari saya kalau memang mengincar untuk masuk ke area Harry Potter ini ialah sudah datang pagi sebelum gerbang dibuka, sama seperti kami, karena yang terjadi adalah.... untuk masuk ke area Harry Potter pun belum menggunakan timed-tickets! Para petugas baru akan menyalakan sistem timed-tickets dan menutup gerbang masuk menuju area Harry Potter setelah melihat sudah seberapa banyak pengunjung yang berada di dalam area tersebut, dan kamipun berhasil masuk ke dalam kloter pertama yang mengunjungi area tersebut di hari itu! Saya berhasil masuk duluan dan meninggalkan kedua teman saya jauh di belakang *saya tidak tau mereka dimana*. Yang saya tau selama berlari-lari, saya sudah melewati gerbang masuk area Harry Potter tersebut, melewati pohon-pohon cemara di kanan kiri, melewati mobil terbang milik keluarga Weasley yang diterbangkan Ron dan menabrak dedalu perkasa, dan tiba di gerbang masuk Hogsmeade, desa di dekat kastil Hogwarts di dunia Harry Potter. Saya pun berhenti sambil nafas ngos-ngosan menunggu kedatangan teman-teman saya. Teman saya, Diva, yang paling antusias dan maniak dengan Harry Potter pun tak lama kemudian muncul. Disusul teman saya yang lain terakhir datang dengan berjalan kaki santai, ternyata konon katanya dia memang tidak berlari sejak awal dan hanya berusaha berjalan cepat saja haha, yah untungnya saja kami bertiga berhasil kebagian masuk ke dalam area ini bersama-sama.

Kastil Hogwarts, tampak antrian masuk menuju wahana Wizarding World of Harry Potter

Di dalam area ini, banyak hal yang bisa dilihat. Saran saya begitu berhasil masuk ke area ini, langsung saja masuk ke wahana Wizarding World of Harry Potter di bawah kastil Hogwarts. Jalan saja lurus terus hingga menemukan kastil Hogwarts dan masuk ke dalamnya disitulah wahana berada, abaikan tempat-tempat di samping kanan kiri anda dulu meski begitu menggoda untuk anda berfoto-foto ria, karena apabila anda baru masuk nanti-nanti, antrian wahana permainan ini akan lebih lama dan tentunya akan membuang banyak sekali waktu anda selama di USJ! Wahana ini termasuk yang paling bagus di USJ dan wajib dimasuki menurut saya, jadi amat disayangkan apabila anda tidak masuk mencobanya.

Setelah keluar dari wahana tersebut, silahkan berfoto-foto ria sampai puas dan mengunjungi berbagai toko-toko sihir di Diagon Alley, seperti Olivander's Wand Shop dan juga Zonkos milik si kembar Weasley, Fred & George. Jangan lewatkan berfoto dengan latar belakang Black Lake dengan kastil Hogwarts di atasnya, karena katanya danau hitam ini satu-satunya di dunia, tidak ada di Universal Amerika. Anda juga dapat membeli segelas butterbeer atau berfoto di dekat lokomotif kereta Hogwarts Express. Ada juga The Three Broomsticks yang menjual makanan besar. Pada kesempatan tertentu juga akan ada penampilan talent yang menyamar menjadi siswa sekolah Hogwarts dan bernyanyi layaknya paduan suara sekolah. Selain itu juga ada yang menyamar sebagai siswa sekolah sihir Beauxbatons atau Durmstrang dan menari-nari, beratraksi layaknya di film Harry Potter and The Goblet of Fire. Setelah kami puas memuaskan impian masa kecil kami berada di dunia Harry Potter, sekitar jam 12 kami keluar dari area tersebut dan melihat gerbang masuk yang tadi paginya terbuka lebar sudah ditutup dan tampak sudah ada antrian di depannya yang menandakan sistem timed-tickets area Harry Potter ini sudah berlaku *fiuh*.

Diagon Alley, banyak toko-toko sihir yang menjual tongkat, jubah, sampai permen Bertie Botts
Replika tongkat-tongkat sihir milik tokoh-tokoh dalam Harry Potter
Tumpukan tongkat Hermione Granger di rak di dalam Olivander's Wand Shop
Aneka mainan dan barang-barang unik bin aneh di Zonkos, disini juga dijual permen Bertie Botts
Bisa nyobain jubah berbagai asrama disini, kebetulan saya mengaku sebagai seorang Hufflepuff

Selama di USJ ini, usahakan untuk tetap mencoba semua wahana permainan yang besar-besar, yang antriannya panjang namun tetap worthy. Alangkah baiknya apabila anda terlebih dahulu mengambil theme park map di booth penjualan tiket sebelumnya dan menyusun strategi perjalanan anda di USJ sembari menunggu gerbang masuk dibuka. Jangan lewatkan juga jam-jam show atraksi yang ada. Sama seperti di Universal Studios Singapore (USS), juga banyak talent-talent yang entah darimana tiba-tiba muncul dan bisa diajak untuk berfoto bersama. Kecuali permainan Harry Potter, rata-rata permainannya sama seperti di USS namun kesemuanya menggunakan bahasa Jepang. Ada beberapa yang tidak ada di USS sih, namun permainannya terhitung biasa-biasa saja. Yang mungkin tampak beda disini adalah juga ada atraksi karakter dari One Piece, manga terkenal dari Jepang yang juga banyak penggilanya. Ini salah satu contoh yang bagus di dunia bisnis menurut saya, sepertinya Jepang tidak mau bisnis wisata negaranya dipegang 100% oleh pihak luar, maka dari itu mereka tetap mewajibkan pihak Universal untuk memasukkan salah satu manga asal negerinya sendiri ke dalam taman permainan ini dan juga mewajibkan seluruh permainan di dalamnya menggunakan pengantar bahasa Jepang.

Selfie di toko souvenir pake kacamata karakter boneka Sesame Street

Permainan demi permainan sudah kami coba sebisa mungkin, semua area sudah kami jelajahi, waktu antrian tiap wahana juga sudah semakin "tidak waras" karena USJ juga semakin ramai orang, dan akhirnya sekitar jam 3 sore kami sudah memutuskan untuk pulang kembali ke hotel, jauh lebih awal daripada yang kami perkirakan. Saat kami pulang dari USJ, bisa saja kami sempatkan ke Osaka Castle, melanjutkan agenda kemarin yang batal, namun lagi-lagi kami memutuskan tidak mengunjunginya dan kembali ke hotel hahahaha.

Malam harinya, kami memutuskan untuk pergi ke Namba *lagi* untuk mencari makan malam sambil berjalan-jalan santai, juga mencari taman untuk duduk-duduk mencari udara segar. Konon katanya taman di Jepang bagus-bagus dan bikin hati damai tenang tentram, setelah googling sebentar ketemulah Namba Parks yang katanya tamannya berada di atap gedung pusat perbelanjaan dan bertingkat-tingkat. Sampai di Namba Parks, kita bisa melihat gemerlap lampu kota Osaka dan gedung-gedung dari ketinggian, dan memang benar taman ini bertingkat-tingkat, naik tangga demi tangga untuk sampai ke puncak paling atas. Semakin ke atas, angin semakin kencang. Taman ini mungkin kalau siang hari yang panas mungkin memang bisa memberikan angin kesegaran, tapi kalau malam-malam gini seperti saat saya berkunjung... adanya bikin pilu! Bagaimana tidak, suasana temaram lampu kuning taman ditambah panorama lampu kota membuat taman ini diisi pasangan-pasangan yang sedang berkencan *oh no!*. Yang bikin risih bukan karena mereka melakukan yang tidak-tidak, tapi karena saya tidak punya pacar dan nggak bisa bermanis-manis manja ria seperti mereka hahaha *envy*. Adanya malah bikin keinget masa lalu *eaaaak*.

Setelah dari Namba Parks, kami makan malam di salah satu restoran di mal tepat di bawahnya. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan kembali lagi ke Dotonburi dan membeli takoyaki dan juga streetfood lainnya. Kedua teman saya pun kembali keluar masuk toko obat untuk berbelanja kosmetik titipan orang-orang. Dasar orang Indonesia, percaya nggak percaya entah remaja muda atau ibu-ibu, mayoritas kemana-mana doyannya belanja, makanya tiap travelling gini kopernya raksasa hahaha. Setelah dari Namba, kami kembali menuju stasiun Shin-Imamiya dan menyempatkan untuk mampir di DAISO (20-30 meter dari stasiun) untuk membeli jas hujan dan apapun yang bisa dibeli disana *harganya cuma 11 ribu-an/item kalo dirupiahin, di Daiso Surabaya udah 25 ribu aja*.

Malam semakin larut, kamipun kembali menuju hotel. Jalan-jalan di Osaka pun resmi berakhir juga di malam itu, karena meskipun keesokan harinya kami juga masih bermalam di Osaka, seharian besok akan kami habiskan dengan berkeliling Kyoto. Ceritanya akan dilanjutkan di Part 3 ya, sampai jumpa di postingan saya berikutnya!


No comments:

Post a Comment